SMK NEGERI 2 MAGELANG

Jalan Jend. Ahmad Yani 135 A, Kramat Selatan, Magelang Utara, 56115 Magelang, Jawa Tengah, (0293) 362577

SMK N 2 Magelang, Unggul dan Juara

Mempraktikkan Merdeka Membimbing, Mengkonseling, dan Mengajar: Belajar dari Ibu Machele Kilgore

Senin, 24 Agustus 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2390 Kali

“Mempraktikkan Merdeka Membimbing, Mengkonseling, dan Mengajar: Belajar dari Ibu Machele Kilgore”

Oleh: Murtiningsih, S.Pd., M.Pd.

(Guru BK SMKN 2 Magelang)

 Mengapa kita belajar dari Ibu Machele Kilgore? Siapa beliau? Dan apa yang dipraktikkannya? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya mencoba mempraktikkan jargon dunia pendidikan kita “Guru merdeka mengajar, membimbing, dan mengkoseling, serta siswa merdeka belajar”. Tentu dalam konteks yang lain seperti pada tulisan saya sebelumnya  bahwa “Kepala Sekolah Merdeka Mengelola Sekolah, Pengawas Merdeka Menyelia Guru, Kepala Sekolah, dan Dunia Pendidikan, dan Pejabat Pendidikan juga harus Merdeka dalam mengambil kebijakan yang memungkinkan guru, siswa, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk merdeka menuangkan ide-ide cerdas dan cemerlang dalam dunia pendidikan”. Guru merdeka harus diartikan sebagai terus berkreativitas, terus belajar, dan terus beradaptasi sebagai bagian dari “habit akademik”. Merdeka sebagai guru dalam dunia maya, saya menemukan tulisan dalam laman Orange County Department of Education (OCDE) yang memiliki OCDE’s Community Home Education Program. Tulisan yang relevan dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini.

Machele Kilgore adalah Ketua OCDE’s Community Home Education Program sekaligus Kepala Sekolah pada Pasicific Coast High School, sebuah lembaga pendidikan di wilayah Orange County yang masuk dalam Negara Bagian California, USA. Beliau memiliki pengalaman dalam mengelola pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah dipraktikkan sebelum masa pandemic melanda dunia pada tahun 2020. Program ini menyediakan sumber belajar untuk orang tua dan anak-anaknya untuk belajar di rumah. Salah satu tulisan beliau adalah strategi pembelajaran jarak jauh (distance learning). Kilgore dalam tulisannya yang berjudul “five skills that can help students successfully navigate distance learning” yang menguraikan ada 5 kunci keberhasilan pembelajaran jarak jauh. Siswa-siswa Pasicific Coast High School difokuskan pada 5 kunci ketrampilan yang diyakini sebagai penentu keberhasilan dalam pembelajarannya. Tulisan ini mengingatkan bahwa dalam masa pandemi Corona Virus Desease (Covid-19) pada saat ini. Kita harus mengadaptasi dan mengimplementasi cara pembelajaran gaya baru secara virtual. Adaptasi ini tidak mudah tetapi harus dilakukan. Selain adaptasi secara cepat, kita tidak boleh berhenti dan puas dengan cara baru di era kenormalan baru tersebut tetapi harus ada akuntabilitas atas apa yang kita lakukan.

Secara rinci Kilgore mengatakan bahwa kunci keberhasilan dalam PJJ yang pertama, adalah ketrampilan manajemen waktu (time management skill). Pengelolaan waktu dalam belajar jarak jauh sangat dibutuhkan, apakah para siswa akan menggunakan waktu secara baik atau tidak dapat mengaturnya secara efektif. Semua tergantung dari pengalaman hidupnya. Setiap pengerjaan proyek atau penugasan yang dilakukan siswa memerlukan manajemen waktu yang baik apakah akan berhasil atau gagal tergantung pengelolaan waktu. Secara rinci Kilgore mengatakan “time management is a real-world experience with teenagers who may over-exaggerate time or underestimate time. Knowing how long projects may actually take, even the length of errands, is a very important skill. And a skill learned most often through personal experiences, both positive and negative.” (Manajemen waktu adalah pengalaman dunia nyata dengan anak anak yang berusia remaja, yang mungkin mereka dapat melebih-lebihkan waktu atau meremehkan waktu. Mengetahui berapa lama waktu waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan proyek, dan bahkan panjangnya tugas, merupakan keterampilan yang sangat penting. Keterampilan ini yang paling sering dipelajari melalui pengalaman pribadi, baik positif maupun negatif.)

Ketrampilan yang kedua adalah akuntabilitas (accountability skill). Akuntabilitas adalah bentuk substansi kebenaran atas proyek yang dilakukan. Siswa harus dibiasakan dalam pembelajaran jarak jauh akan ketrampilan akuntabilitas karena perolehan belajarnya tidak sepenuhnya dalam control atau pengawasan guru. Sehingga siswa tidak sekadar mengirim hasil kerja tetapi ada akuntabilitas hasil kerja sebelum dipertanggungjawabkan secara akademik. Kilgore menekankan bahwa “Accountability comes before responsibility for me because I think one needs to understand what commitments are — and what the expectations are — in order to meet them.” (Bagi saya (Kilgore) akuntabilitas datang sebelum tanggung jawab karena menurutnya seseorang perlu memahami apa itu komitmen - dan apa ekspektasinya – serta bagaimana untuk memenuhinya.)

Ketrampilan yang ketiga adalah pertanggungjawaban (Responsibility Skill). Kebanyakan siswa merasa bahwa semua proyek yang akan dikerjakan memiliki banyak waktu sehingga pengerjaannya ditunda-tunda sampai akhirnya pada titik di mana waktu pengerjaannya tidak cukup. Maka ada dua pilihan apakah siswa acuh untuk tidak mengirimkan hasil kerja sehingga tidak ada pertanggungjawaban atau berbohong mengaku telah mengirim tugas atau proyek melalui aplikasi tertentu. Jika ditanya bahwa tugas belum dikirim, maka siswa dapat berkilah mungkin belum sampai padahal tidak mengerjakan. Kilgore mengatakan “Responsibility is understanding what is expected and carrying out those expectations with integrity. And owning the consequences of not meeting the expectations. Both are valuable learning experiences for the future — with an emphasis on ‘learning experiences.’ Not meeting expectations is not a permanent label.” (Tanggung jawab adalah memahami apa yang diharapkan dan melaksanakan harapan tersebut dengan integritas. Ini memiliki konsekuensi karena sesuai atau tidak memenuhi harapan. Keduanya adalah pengalaman belajar yang berharga untuk masa depan - dengan penekanan pada 'pengalaman belajar.' Tidak memenuhi harapan bukanlah label secara permanen.)

Ketrampilan Komunikasi (Communication Skill) adalah ketrampilan keempat yang harus dimiliki siswa dalam PJJ. Mengkomunikasikan hasil kerja merupakan sesuatu yang tidak mudah bagi siswa yang melakukan PJJ karena mereka tidak bias bertatap muka secara langsung dan tidak dapat mengungkapkan kesulitannya secara detail kepada guru. Oleh karena itu, pembelajaran yang mampu memberikan perolehan kemampuan berkomunikasi secara tertulis atau lisan adalah penting, khususnya dalam PJJ. Kilgore mengatakan bahwa “Communication is crucial and is a skill we need to continually review. How one asks the right questions in the right way, how one communicates needs, or what a correct and/or complete response entails, are all important in successful communication.” (Komunikasi sangat penting dan merupakan keterampilan yang perlu kita kembangkan terus-menerus. Bagaimana seseorang mengajukan pertanyaan yang tepat dengan cara yang benar, bagaimana mengkomunikasikan kebutuhannya, atau apa yang dibutuhkan oleh respons yang benar dan / atau lengkap, semuanya penting dalam komunikasi yang berhasil.)

Ketrampilan kelima yang menjadi kunci keberhasilan PJJ adalah ketekunan (Perseverance skill). Untuk berhasil tidak harus pintar atau cerdas tetapi ketekunan juga menjadi kunci keberhasilan. Jika terdapat proyek atau penugasan yang sulit, maka ketika siswa memiliki ketekunan, maka dia tidak akan mudah menyerah untuk menyelesaikan tugas. Ketekunan adalah tantangan yang luar biasa saat anak dihadapkan pada dunia yang seba instan. Kilgore mengaskan “Perseverance is what we learn when we are willing to take on a new challenge or difficult task. I always put this last in my explanation because if one has some time management abilities and good communication skills, then perseverance will generally pay off because the prior skills can often support the concept of perseverance. Having a growth mindset and a sense of perseverance sets the stage for how one pursues new learning experiences and challenges.”  (Ketekunan adalah apa yang kita pelajari ketika kita bersedia menerima tantangan baru atau tugas yang sulit. Saya (Kilgore) selalu memasukkan yang terakhir ini dalam penjelasannya karena jika seseorang memiliki kemampuan manajemen waktu dan keterampilan komunikasi yang baik, maka ketekunan umumnya akan terbayar karena keterampilan sebelumnya sering kali dapat mendukung konsep ketekunan. Memiliki mindset yang terus berkembang dan ketekunan tersebut menentukan bagaimana seseorang dapat mengejar pengalaman dan tantangan belajar baru.)

Pengalaman yang dibagikan oleh Kilgore tentu akan menginspirasi kita dalam mengelola PJJ di masa kenormalan baru saat ini. Semoga tulisan ini dapat menjadi ilmu tambahan bagi kita dalam melaksanakan profesi guru. Selamat bertugas dan mengabdi sebagai guru profesional!!! (Murtiningsih, S.Pd., M.Pd., 2020)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Kurniawan Basuki, S.Pd., M.T.

  Assalamu’alaikum Wr.Wb. Puji syukur Alhamdulillah selalu kita panjatkan kepada Ilahi Robbi. Keperluan dan kepentingan manusia dalam kehidupan antara lain…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Apakah web ini dapat memberikan informasi tentang SMK Negeri 2 Magelang..?

LIHAT HASIL